Label

Selasa, 23 Desember 2014

ديارة العمل كسبيل ارتفاع الاقتصادية

"ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بانفسهم (الرعد: 11)"

فى هذه الاية امر الله الانسان ان يغير حاله بمحاولته فى جميع اموره الى درجة العليا حتى الاقتصادية. ولا يستطيع ان يغيره بدعاء فقط, بل بالعمل ايضا. وفى ارتفاع الاقتصادية, لازم للانسان ان يختار طريقا مناسبا كي يكون نجيحا فى الدنيا ولا يخرج من قنون الدين. وقد دل رسول الله ص. م طريقه بسنته. كان با ئعا صديقا. فلخلا صة, ما فعله رسول الله من جملة انواع ديارة العمل او العمل الحر.

وكانت ديارة العمل اختيارا احسن لارتفاع الاقتصادية لانها لا تقيد فاعلها, فلهذا يشعر بالحر حتى يقدر ان يرتفع الاقتصادية على ما شاء. وديارة العمل من اطيب الكسب لانها من البيع الذي احله الله, ومدحه ايضا رسول الله فى جواب سؤل صحابته "اي الكسب اطيب؟  قال رسول الله : عمل الرجل بيده وبيع مبرور. ومن هذا, فاذا اراد الانسان ان ينال نجاح الاقتصادية, ينبغي ان يعمل درياة العمل او العمل الحر. 


Rabu, 26 November 2014

Sampah Plastik dan Bunuh Diri Ekologi



Oleh: Ahmad Muqsith*


Semua kalangan sudah semakin sadar dengan perubahan iklim global yang terjadi di seluruh belahan dunia. Kajian mulai dari diskusi oleh mahasiswa di pojok kampus sampai seminar yang dilakukan pakar, membuat masalah perubahan iklim ini darurat untuk segera digarap dan ditemukan solusinya. Masalah ekologi yang melanda sekarang diantaranya akibat permasalahan dari polusi udara, penipisan ozone, sedimentasi, produksi limbah, berkurangnya keragaman hayati dll. 

Banyaknya masalah yang dihadapi ekologi sekarang, penulis ingin mendiskusikan bagaimana cara kita ambil bagian dalam peperangan ini. Bagaimana kita melakukan apa yang dinyanyikan Michael Jackson dalam lagunya heal the world. Perang ekologi ini harus kita sadari siapa musuh dan siapa teman kita. Kalau boleh meraba permasalahanya, penulis akan menjadikan prilaku sekalangan manusia yang tidak berwawasan lingkungan menjadi tokoh jahatnya. Sementara agen perubahan lingkungan harus melawan tokoh jahat tersebut dengan bersahabat dengan alam. Penulis ingin mengajak masyarakat berperang melawan sampah plastik. 

Konsumsi plastic dunia sekarang sudah mencapai 26 juta ton. Padahal kita tahu bahwa plastic baru bisa terurai dalam interval waktu 80-100 tahunan. North Pacyfic Gyre adalah sebuah kawasan di laut yang menjadikan laut sebagai monster sampah plastik. Pulau-pulau kecil terbentuk dari gumpalan sampah plastic yang bermuara dari sungai-sungai ke lautan. Para pakar ekologi dan toksikologi biasa menyebut fenomena ini bagian dari ecological suicide. Dikatakan bunuh diri karena manusia tidak sadar secara perlahan telah membunuh dirinya sendiri. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dengan asas as not on my back yard adalah rantai pertama dalam bunuh diri ekologi. Sampah plastic di laut terurai menjadi mikro plastik, termakan ikan laut yang nantinya akan dikonsumsi manusia. Begitulah contoh kecil yang paling sederhana dari ecologycal suicide.

Empat R 

Menurut pakar toksikologi, Budi w, selaku Rektor Unika, salah satu penyakit manusia adalah menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan teknologi. Sampah plastic yang sedang menjadi sorotan misalnya, teknologi coba menyelesaikanya dengan membuat pengurangan berat botol minuman air mineral. Namun tidak selamanya teknologi mampu menyelesaikanya. Maka Fachruddin Mangunwijaya, anggota forum Konservasi Internasional mensosialisasikan gerakan Empat R khusus untuk masalah plastic. 

Pertama adalah re-use. Selama masih bisa digunakan kembali kita tidak usah membuang sampah plastik. Prinsip re-use ini memungkinkan kita tetap bisa menggunakan plastik yang belum rusak. Kedua adalah re-duse. Asas kedua menekankan pada pengurangan penggunaan. Misal kita sudah mengetahui bahwa semua orang yang pergi ke pasar yang berbelanja menggunakan plastic sebagai wadah belanjaanya. Selama barang belanjaan tidak membutuhkan plastic maka kita tidak usah meminta plastic ke pedagang. Keranjang belanja ramah lingkungan harus menjadi trend pengganti kantong plastic yang punya kesan simple dan portable. 

Ketiga adalah recycle. Daur ulang adalah prinsip yang memungkinkan terbukanya lapangan kerja ekonomi kreatif. Sampah plastik bisa dijadikan sebagai komoditas pasar yang unik oleh wirausaha rumahan. Ketiga adalah re-thinking. Asas yang ke empat ini menekankan kita untuk berpikir ulang, apakah sebenarnya kita membutuhkan plastik saat berbelanja atau tidak. Walaupun sudah banyak pusat perbelanjaan yang menawarkan kantong plastik atau kertas yang ramah lingkungan, jika kita selalu menggunakan ke empat asas ini tentu kita akan membantu mengurangi polusi sampah plastik. 

Lima M 

Saat Empat R sudah dipahami maka gerakan ke dua adalah Lima M. Mulai dari diri sendirim dalam setiap perubahan apapun tidak mungkin berhasil jika tidak dimulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang, mulailah melaksanakan asas Empat R dari sekarang, jadikan sebuah kebiasaan dan sebarkan virusnya. Ketiga adah memulai dari hal terkecil, cukup simpan barang belanjaan di kantong pakaian jika memungkinkan, sedia tempat air mineral untuk menghindari membeli air kemasan botol. Mulai dengan sungguh-sungguh, tahap ini memahami langkah penanganan sampah plastic sudah menjadi prinsip. Terakhir mulailah dengan istiqamah (berkelanjutan), jika semua cara sudah dilakukan dan virus Empat R masih susah disebarkan, maka kita tidak boleh berhenti dan teruslah untuk menegakan prinsip Empat R. 

Permasalahan ekologi yang beragam penyebabnya, kemudian semakin parah terakumulasi akibat tidak ada penanganan yang serius, harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan ekonomi, sosiologi bahkan pendekatan agama. Saat berbicara masalah pendekatan agama, berarti kita sudah siap menggunakan agama untuk kemanusiaan bukan lagi kemanusiaan untuk agama. Agama sudah tidak melulu  membincangkan masalah eskatologi. Dalam Islam misalnya, kajian Fiqih lingkungan menandakan bahwa agamapun sudah terdesak untuk ikut campur semakin dalam di permasalahan ini. Pendekatan agama melalui tokoh agama-agama adalah hal yang paling memungkinkan dilakukan masyarakat Indonesia.

Khotbah di tempat peribadatan sudah saatnya mulai menghimbau umat untuk kembali menjaga lingkungan. Reinterpretasi konsep Khalifah fi lard dan knowledge is power tidak lagi diperkenankan untuk menjadikan alam dieksporasi sesuka hati oleh manusia. Harus ada ceramah-ceramah yang menggeser paham antroposentris yang merajakan manuisa kembali pada paham bahwa manusia dan alam adalah bersahabat. Puncak peribadatan harus menyentuh perawatan alam. Kalau bisa, semua upaya harus dilakukan untuk mencegah ecological suicide, kalau hal itu dikatakan tidak mungkin, setidaknya kita mampu menghambat bunuh diri tersebut.


*Penulis adalah Ketua BEM Fakultas    Ushuluddin UIN Walisongo Semarang

Jumat, 21 November 2014

Tak Ada Yang Tau Hari Esok

Oleh: Zaimuddin Ahya'*

Sering kali manusia memberikan semuanya untuk hari ini, dan sering juga mereka menyesal setelah sadar bahwa hidup tidaklah hari ini saja. Hidup ini panjang, penuh misteri dan kadang tidak terduga.

Dalam banyak hal, manusia secara tidak sadar mencurahkan segala perhatiannya pada hal yang dia sukai saat ini. Misalnya, jabatan, percintaan dan pengetahuan.

Ketika manusia mempunyai tanggung jawab, kadang dia akan mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk itu dan cenderung memaksakan diri, tapi sekali dia menuai kekecewaan, maka tenggelam lah karena tenaganya sudah habis.

Kemudian, dalam percintaan-yang paling menarik-banyak sepasang kekasih memberikan semuanya-baik hati dan tubuhnya-dengan suka rela. Mereka tak mau berpikir tentang hati esok, padahal, siapa yang tau hati esok. Jika mereka telah memeberikan semuanya, tidak mustahil akan sangat menyesal dikemudiaan hari. Dan, saat itu masa lalu menjadi musuh yang sulit dikalahkan.

Yang terakhir adalah pengetahuan. Banyak mereka sekali punya pengetahuan berbicara seakan pengetahuannya adalah kebenaran yang abadi dan cenderung menyalahkan yang berbeda. Sikap mereka ini bisa jadi akan menjadi sebuah penyesalan, karean tidak ada yang tau hari esok, jua tidak ada jaminan pengetahuannya bertambah dan tidak berubah.

*Penulis adalah Pengelola blog Fenomenal

Kamis, 13 November 2014

Memilih Penderitaan Yang Membahagiakan

Oleh: Zaimuddin Ahya'


Banyak yang mengatakan kalau ingin bahagia harus menderita terlebih dahulu. Satatemen ini juga dikuatkan dengan pribahasa yang cukup terkenal "berakit-rakit dahulu, berenang ketepian. Bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Namun kalau kita fahami betul kehidupan ini, tak selamanya menderita itu berujung kebahagiaan. Sekarang yang jadi pertanyaan, penderitaan atau sakit seperti apa yang mengantarkan kepaa kebahagiaan?
Kita sering mendengar kisah tentang penderitaan para Nabi, Pejuang, Pahlawan. Mereka pantang menyerah, rela berkorban, berani mati, dan kadang harus berpisah dari keluarga demi memperjuangkan kebenaran yang diyakini. Sepak terjang para tokoh tersebut dianggap oleh banyak orang sebai penderitaan, begitu pula penulis. Tapi akhir-akhir ini, ada yang mengelitik hati penulis, apakah benar para tokoh tersebut menderita?jangan-jangan malah sangat bahagia dengan apa yang mereka lakukan.

Penderitaan itu Subyektif

Ada situasi yang sama tapi dirasakan berbeda oleh orang berbeda. Yah, Mungkin kita pernah mengalami, kita berbahagia dalam satu situasi, tapi teman kita justru sedih. Maka, dapat disimpulkan bahwa penderitaan lebih berhubungan dengan perasaan, dan manusia berbeda-beda.
Dengan argumen di atas, tak berlebihan jika penulis berprasangka; mungkin tokoh- tokoh di atas tidak pernah menderita, bahkan selalu bahagia. Bukankah Tuhan juga berfirman dalam al-Qur'an tentang apa yang dirasakan para kekasihnya--yang dianggap menderita oleh kebanyakan orang--"Sesungguhnya kekasih-kekasih ku tidak merasa takut dan tidak bersedih". Jadi, dapat disimpulkan bahwa para tokoh di atas memilih penderitaan yang membahagiakan.

Penderitaan Sejati

Kalau tadi kita membahas penderitaan yang membahagiakan, sekarang ayo kita meneliti, mungkin ada penderitaan yang tidak membahagiakan atau--dalam istilah penulis--penderitaan sejati
Setiap orang pasti tidak ada yang menginginkan merasakan penderitaan, tapi kadang keadaan memaksa kita untuk menderita. Misalnya, menderita karna miskin yang tak disyukuri, menderita karna perbauatan jelek masa lalu, misalnya korupsi yang mengakibaykan dipenjara dan masih banyak lagi. Tapi, Tunggu dulu, tidak selamanya keadaan yang memaksa, tapi kitalah yang mengakibatkan penderitaan itu. Dan, ketika mengalami penderitaan seperti inilah yang layak dusebut penderitaan sejati.

Penderitaan sejati bukan berarti penderitaan abadi, yang tak bisa dihilangkan. Dalam al-Qur'an Allah menyuruh kita untuk mengikuti perbuatan jelek dengan perbuatan baik, karena perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek. Penulis menduga perintah ini mengandung obat penawar dari penderitaan sebuah penyesalan dari kesalahan kesalahan yang lalu. Karena Walaupun sejarah mencatat kesalahan yang pernah dilakukan, namun selama kita masih bernafas, itu bukanlah sejarah akhir kita. Intinya, perbaikan dari penderitaan harus dilakukan supaya bebas dari itu.


*Penulis adalah Pengelola blog Fenomenal

Senin, 06 Oktober 2014

Agama Tidak Akan Mati

Judul Buku  : Agama Punya Seribu Nyawa
Penulis         : Komaruddin Hidayat
Penerbit       : Noura Books
Tebal           : XXV + 281 halaman
Peresensi     : Zaimuddin Ahya'*


Akhir-akhir ini keberlangsungan agama di pertanyakan. Agama sering dianggap telah kuno dan sudah tidak relevan pada zaman modern ini. Bahkan, munculnya terorisme dan kekerasan atas nama agama  menjadikan agama menyandang asumsi negative, sumber pertikaian. Kemudian, bagaimana nasib agama dimasa depan? Mungkinkah agama akan mati?
Dalam buku “agama punya seribu nyawa”, Komaruddin Hidayat mencoba menjawab pertanyaan di atas. Dia menerangkan hakikat agama dan kebutuhan manusia terhadapa agama. Banhkan , menyatakan bahwa agama adalah pelita kehidupan. Agama tidak bisa difahami secala lahirnya saja. Sering kali orang beragama tidak bisa mersakan esensi agama itu sendiri. Akhirnya, orang tersebut hanya menjadi makhluk material dan bukan makhluk sepiritual. Dalam bahasa lain orang tersebut menderita penyakit rohani. Sehingga tidak bisa membedakan baik dan buruk.
Tidak hanya itu, penulis juga menyatakan bahwa pluralisme agama adalah keniscayaan. “ragam agama dan mazdhab itu laksana ratusan sungai yang mengalir dari berbagai penjuru arah, melewati berbagai daratan, lembah, dan pegunungan yang berbeda-beda, namun, muaranya satu adanya, yakni samudra”. Begitulah pernyataan penulis dalam mengibaratkan perbedaan agama. Menurutnya, Tuhan bagaikan samudra kasih yang senantiasa menampung dan merindukan ruh manusia untuk kembali menyatu denaganNya. Dari manapun dan apapun yang terbawa oleh sungai, samudra tidak akan menolak. Bahkan menetralisir kotoran-kotoran yang dibawa.
Akan tetapi, sering kali terjadi kecemburuan diantara umat beragama dalam memperebutkan kasih Tuhan. Tak jarang mereka saling mengangkat senjata dan menumpahkan darah. Memang, ada kesan tidak rela jika ada orang yang bebeda agama masuk surga. Bahkan, ada doktrin agama yang menyatakan bahwa orang yang berbeda agama adalah kafir dan membunuhnya mendapat pahala. Doktrin tersebut sangat kuat, terutama dalam agama Islam dan Kristen. Maka, tak mengherankan Perang mereka pun disebut “holy war” (baca; Perang Suci).
Problem trut claim sebenarnya harus segera diakhiri. Jika tidak, maka umat manusia akan menyaksikan pertumpahan darah antar umat beragama semakin seru dan merata. Disini penulis melontarkan pertanyaan yang menggelitik para pembaca, “Mestikah beragama disertai sikap cemburu dan benci terhadap mereka yang berbeda keyakinan? Kalau seseorang telah yakin dan merasa benar serta nyaman dengan ajaran dan praktik keberagamaannya, bukankah kenyamanan itu yang mestinya disebarluaskan?”.
Kemudian, konflik agama tersebut membuat beberapa orang elergi terjadap agama. Sehingga muncul gerakan politik dan pemikir yang secara terang-terangan memusuhi agama. Bahkan kalau perlu dihapuskan saja. Misalnya Lenin, Mark, Richard Dawkins yang secara sistematis membangun argument ilmiah-rasioanal untuk meragukan agama.
Akan tetapi semua itu tidak menenggalamkan agama. Malahan kini semangat dan militansi agama semakin kuat. Bahkan ramalan para pemikir modern yang mengatakan ketika ilmu pengetahuan dan tegnologi telah maju agama akan mati tanpa di basmi dan Tuhan dianggap telah pensiun itu pun meleset. Agama masih hidup dan tetap eksis. Karena pada kenyataannya banyak persoalan kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh iptek modern. Jadi, “ sepanjang manusia masih nyambung dengan akar primodialnya Yang Sejati, nyawa-nyawa agama senantiasa subur dan abadi”. Itulah kalimat dari penulis.

Buku ini mengajarkan sikap toleransi agama sekaligus tetap menjaga identitas agama masing-masing. Maka,layak dibaca siapapun. Khususnya mereka yang mengalami kekecewaan pada agama dan yang suka menyebarkan agama dengan pedang serta mempunyai kecemburuan berlebihan dalam merebutkan kasih Tuhan. Selamat membaca!


*Penulis adalah Pengelola blog Fenomenal

Dibalik Pro Kontra UU PILKADA



Oleh: Zaimuddin Ahya’


RUU PILKADA telah disahkan dengan cara voting setelah tidak ditemukannya kesepakatan. Dalam proses pengesahan RUU PILKADA para Legislator kita terbagi menjadi tiga kubu, dua diantaanya adalah kubu yang bersebrangan dalam pemilihan Presiden 9 juni 2014. Sedangkan satu kubu yang lain mengajukan opsi yang diyakini sebagai penengah, tapi akhirnya mereka memilih walk out setelah opsi mereka ditolak.
Kubu yang mendukung pengesahan RUU PILKADA tersebut beralasan bahwa pilkada langsung oleh rakyat banyak mandaratnya dari pada manfaatnya, diantaranya adalah  mony politik, biayaya yang besar dan merusak moral masyarakat, sedangkan yang mendukung pilkada langsung berdalih bahwa pengembalian pilkada oleh DPR itu adalah pencabutan hak politik rakyat dan gerak mundur dari proses pendewasaan demokrasi.
            Jika kita kembali ke proses RUU PILKADA, dari mulai pengajuan sampai pengesahan menjadi UU, ternyata ada sesuatu yang menggelitik dan janggal. Pada awalnya RUU PILKADA diajukan oleh Pemerintah kepada DPR, Pemerintah mengusulkan pemilihan Gubernur oleh DPR sedangkan Bupati dan walikota oleh rakyat. Pada perkembangannya, pemerintah mengusulkan pemilihan Gubernur oleh rakyat, sedangkan Bupati dan Walikota oleh DPR.
            Usulan di atas ditolak oleh enam fraksi dari Sembilan fraksi DPR, mereka bersikukuh pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung oleh rakyat. Akhirnya, Pemerintahpun mengeluarkan pernyataan mensetujui pemilihan Kepala Daerah oleh rakyat. Setelah hampir dua tahun RUU ini di bahas di DPR, tiba-tiba ada hal yang mengejutkan, kubu yang tadinya mendukung pilkada langsung, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan mensetujui pilkada oleh DPR, mereka adalah yang terkumpul dalam Koalisi Merah Putih (KMP) (Kompas; Ramlan Surbakti)
Terusan Pilpers 2014
            Perubahan sikap Koalisi Merah Putih mengundang su’udzon dari banyak pihak. Perubahan sikap tersebut dianggap sebagai balas dendam atas kekalahan mereka dalam pilpers kemarin. Anggapan ini juga dikuatkan dengan adanya pengesahan perubahan UU MD3 saat perhatiannya tertuju pada pilpers, yang isinya juga menguatkan pihak Koalisi Merah Putih yang menggelembung dalam parlemen.
            Kalau melihat sikap salah satu pemimpin Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto saat dinyatakan kalah oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam pilpers 2014, dia bersikukuh menggugat hasil hitungan KPU ke Mahkamah Konstitusi (MK), walaupun akhirnya gugatan tersebut kandas. Maka wajar, jika pengasahan RUU PILKADA ini dianggap sebagai perlawanan yang belum tuntas di pilpers 2014
Kamuflase Kekecewaan
            Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kekecewaanya di media sosial atas putusan DPR yang mengesahkan RUU PILKADA, dia juga mengaku akan bersama rakyat menggagalkan UU PILKADA tersebut. Dilain pihak, rakyat menanggapi kekecewaaan SBY dengan cibiran, mereka menganggap SBY hanya cari nama.
            Cibiran rakyat cukup beralasan, karena jika SBY serius ingin menggagalkan pengesahan UU PILKADA, seharusnya dia menolak secara langsung atau melewati MENDAGRI, sebagaimana tertulis dalam pasal 20 ayat 2 dan ayat 3 UUD 1945, disebutkan setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (ayat 2), jika RUU tersebut tidak mendapatkan persetujuan bersama, RUU itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu (ayat 3). Maka jika SBY baru menolak setelah RUU itu disahkan, itu sia-sia, karena RUU yang telah disahkan bersama akan menjadi UU dengan atau tanpa tanda tangan Presiden
 Perppu = Slilit Bagi DPR
            Entah karena serius ingin mengembalikan pilkada lansung oleh rakyat atau hanya ingin terlihat heroik, SBY memutuskan mengeluarkan dua Perppu sebagai langkah politik Presiden mengembalikan pilkada langsung, namun SBY sendiri menyatakan bahwa Perppu bisa menjadi UU jika disahkan oleh DPR 2014-2019.
            Melihat fakta, bahwa DPR 2014-2019 dikuasai oleh Koalisi Merah Putih yang notabennya mendukung pilkada oleh DPR, apakah mungkin hanya dengan diajukannya Perppu oleh Presiden, mereka berbalik arah dengan mensetujui PILKADA langsung? Maka, sudah sewajarnya, langkah politik SBY—walaupun  seolah mendukung pilkada langusng—dicurigai sebagai pencitraan di akhir periodenya.
            Bagi DPR, Perpuu yang dikeluarkan Presiden tidaklah menjadi persoalan yang serius, karena DPR mempunyai hak mengesahkan atau menolak. Disisi lain, sudah jama’ diketahui bahwa tidak berlaku lagi di Senayan pengambilan keputusan dengan cara musyawarah mufakat, semuanya ditentukan dengan voting sebagaimana kita ketahui dalam beberapa persidangan (UU MD3 dan UU PILKADA). Maka, jelaslah nasib Perpuu ada ditangan mayoritas, yaitu Koalisi Merah Putih
Counter Attack KMP
            Koalisi Merah Putih semakin menggila, setelah menang dalam pengesahan UU MD3 dan UU PILKADA, sekarang mereka berhasil menguasai kursi kepimimpinan di DPR, ketua dan empat wakil ketua DPR, semuanya dari partai-partai yang tergabung dalam koalisi merah putih. Bahkan, dikabarkan selanjutnya mereka mengincar kepemimpinan di MPR.
            Ternyata kekalahan koalisi merah putih dalam pilpers 2014 bukan akhir dari segalanya, mereka menggalang kekuatan dan menjelma lewat lembaga legislatif yang juga mempunyai power dalam mengatur kebijakan Negara. Jadi, sekarang Indoseia dikuasai dua kekuatan besar yang menjelma dalam dua intansi Negara tertinggi, Koalisi Indonesia Hebat menguasai Pemerintahan dan koalisi merah putih menguasai Parlemen. Dengan ini, kayaknya sudah tidak ada lagi idologi partai, semua telah merapat, yang ada hanya kontrak politik, walaupun penulis berharap dugaannya ini salah, semoga.  
 


Sabtu, 27 September 2014

Genjutsu Cinta

Saat aku mencium bau, aku teringat bau parfum mu
Saat aku melihat warna, aku teringat warna kesukaanmu
Saat aku melihat wanita, aku tak melihat kecuali bayangmu

Rabu, 09 Juli 2014

Ilusi Tak Terbatas Pilpres 2014


Oleh: Zaimuddin Ahya'*


Tampaknya pengaruh pilpres terhadap rakyat Indonesia begitu besar, sehingga agak pantas jika dikatakan rakyat Indonesia sedang terperangkap dalam mimpi tak terbatas. Ya, impian melihat calon yang didukungnya berhasil memperoleh suara terbanyak. Terlihat dari postingan di sosial media (facebook, twitter dan semacamnya) yang berisi pengunggulan calon yang didukung dan juga sindiran-sindiran sinis kepada calon yang lain, padahal ritual memilih presiden telah usai dan tinggal menunggu hasil.
Sebenarnya waktu menunggu hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mungkin akan lebih afdhol jika digunakan untuk bersantai, berhenti menghujat satu sama lain, dan melupakan pertengkaran kemarin, tapi apakah mungkin, setelah saling tusuk kemudian sekejap seakan tidak terjadi apa-apa, kayaknya rakyat Indonesia tidak sebaik itu, bukankah watak bangsa ini pendendam?
Banyaknya kekhawatiran hari ini Indonesia dalam situasi rawan perang saudara itu sangat beralasan. Disamping sifat pendendam, ada juga sifat lain yang lebih berbahaya, yaitu tidak mampu menerima kekalahan. Entah, penulis tidak bisa membayangkan jika hal ini masih berlanjut sampai lima tahun mendatang, bukan tidak mungkin kita akan saling bunuh dengan saudara kita sendiri setiap hari, mengerikan bukan?
Keanehan atau Keajaiban
Dalam pemilu kali ini ada sesuatu—entah aneh atau ajaib—yang sepertinya belum pernah terjadi dipemilu-pemilu sebelumya, yaitu hasil perbedaan penghitungan cepat oleh beberapa lembaga survei yang berkerjasama dengan station televisi, lebih tidak mengherankan lagi, station televisi mengunggulkan calon masing-masing. Maka wajar jika di sosial media ada yang memposting “tokoh ini adalah presiden terpilih negara republik  station televisi ....
Dari perbedaan hasil penghitungan cepat menimbulkan banyak prasangka, diantanya ada yang beranggapan hal ini memang direkayasa oleh masing-masing pendukung, tapi ada juga yang beranggapan bahwa ada perbedaan dalam mengumpulkan data, melihat penghitungan cepat itu hanya mengambil sampel, tidak keseluruhan. Jika prasangka yang pertama itu benar, berarti kita memang benar-benar sedang terperangkap dalam ilusi pilpres yang tak terbatas, tapi jika prasangka yang kedua yang benar, maka kita benar-benar masih sadar bahwa kita semua bersaudara, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Ilusi Berbuah Konflik
            Hasil penghitungan cepat memang terjadi perbedaan, tapi tidak mungkin kedua calon akan menang semua, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Bagi yang menang akan dengan mudah bersyukur, tapi bagi yang kalah apakah bisa menerima. Kemungkinan terjadi saling tuduh merekayasa suara yang masuk itu rentan terjadi, melihat selisih perolehan suara yang sangat tipis. Jika saling tuduh benar-benar terjadi, mungkin ritual pilpres bisa saja tidak selesai sampai di sini, dan negaralah yang paling dirugikan.
            Ritual pilpres akan semakin terasa tidak maqbul’ manakala nantinya hasil hitungan akhir dari KPU tidak disikapi dengan legowo oleh calon yang kalah, karena bisa membakar kekecewaan para simpatisan. Kemungkinan terburuk kita akan perang saudara, sedangkan kemungkinan agak buruk akan terjadi pembangkangan pihak calon yang kalah selama lima tahun kedepan, tapi penulis kira dua kemungkinan tersebut tidak akan terjadi, karena tak mungkin mereka memilih  terperangkap terlalu dalam oleh ilusi tak terbatas pilpres ini, maka calon yang kalah pasti akan legowo dan tak mungkin menjadi penyulut konflik setanah air, sebagaimana sering kita dengar bahwa mereka mencalonkan diri sebagai presiden demi kesejahteraan Indonesia. Wallahu ‘alam


*Penulis adalah Pengelola blog Fenomenal

Kamis, 08 Agustus 2013

Entah Bagaimana Melupakanmu?




Entah bagaima aku melupakan tulisanmu. Mungkin mulai hari ini aku tak akan melihat tulisanmu memenuhi kotak masuk di handphone ku. Tepatnya, kemarin, terakhir aku membaca tulisan yang membuat mulut ini bergerak-gerak laksana paruh burung prenjak yang melihat pisang.
Hubungan kita yang begitu rahasia, mungkin alam pun tak tau. Yah, kisah kita dimulai dari sms dan berakhir dengan sms. tanpa suara. tanpa tatap muka.
Waktu itu, sebenarnya aku menaruh perhatian sejak pertama melihatmu. Tapi, hingga beberapa bulan belum ada komunikasi diantara kita, karena tak ada “kebetulan” yang terjadi dan kita punya sifat yang sama. Yaitu, pemalu. Jadi tak ada tegur sapa. walaupun kita sering berpapasan. Karena kebetulan satu kampus.
Ratri, itulah sebutanmu. Teman-temanmu akrab memanggilmu. Begitu pula aku, walaupun cuma dalam hati. sedangkan mulut ini tersipu malu tak mampu bergema sedikitpun, bahkan mungkin sampai sekarang.
Aku masih ingat sekali. Iya, sore itu, diam-diam aku mencatat nomermu yang tertulis dalam lembaran absen kegiatan yang kita ikuti. Diskusi sore yang diselenggarakan oleh salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa). Tapi, nomermu hanya menjadi hiasan mati dalam kontak handphone ku. Tak ada keberanian menghubungimu.
Hingga pada suatu malam. Malam idul fitri, malam sms bertebaran. Berisi ucapan selamat dan maaf. Tiba-tiba muncul sebuah inspirasi. Aku mengirim sms ke nomermu. Ternyata sambutan baik yang kuharap terjadi. Kamu membalasnya. Dan, malam itulah yang menjadi awal kisah kita.
Hari ini aku mencoba mengenang, setidaknya itu indah bagiku. Dari malam itu, lama-lama aku dan kamu tambah akrab. Aku senang dengan hal itu dan mungkin kau juga senang, karena seakan tulisanmu berkata seperti itu.
“Aneh tapi nyata”, itu yang ku rasakan, mungkin tak jauh beda dengan dirimu. Begitu akrabnya di sms tapi seperti tak kenal ketika bertatap mata. Malu, mungkin itu. Setiap hari tak pernah kita tak saling sapa. Sapaan itu menjadi lebih intim. Bagaimana tidak? Hanya aku dan kamu yang tau.
Akhirnya benar, kita seperti Laila-Majnun, hanya berkata lewat tulisan dan mencuri pandang dari kejauhan. Walaupun aku tak pernah mengungkapkan cinta, begitu pula dirimu. Tapi kata-kata mesra yang tertulis itu sudah lebih mewakili isi hati.
Entah, kenapa tiba-tiba kamu berubah. Tepatnya kemarin sore, aku kaget membaca sms mu
“Kak, aku tak lagi percaya kepadamu, kamu hanyalah perayu wanita yang busuk dan aku adalah korban.”
Langit seakan mendadak gelap, aku pun mencoba menjelaskan. Tapi, seakan anggapan itu telah terpatri dalam sanubarimu. Sejak saat itulah, wajah ini tak pernah senyumm-senyum sendiri layaknya orang gila.
Sebenarnya hari aku masih menunggu, tapi itu percuma. Pikiranku masih terpusat pada Ratri. Tak Teresa matahari telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Ternyata aku melamun seharian, mengenang kisah itu.
Setelah beberapa hari aku mencoba menghubunginya. Tak kusangka, ternyata dia menjawab dan seakan menunggu sms dariku. Aku pun bahagia. Kami meneruskan hubungan ini. Hubungan persahabatan yang mesra. Dari itu, semua berjalan seperti semula. Setiap hari, bahkan setiap waktu aku bersamanya.
Semakin lama kata-kata kami semakin mesra. Entah tak tau kapan awalnya, aku memanggilnya bulan. Sedang dia memanggilku bintang.
“Bulan tak lengkap tanpa bintang” itulah kata yang sering dia tuliskan.
“Bintang menemani bulan” kata inilah yang menjadi jawaban ku.
Akhirnya akupun memulai memberanikan diri, mengatakn perasaanku kepadanya, walau dengan nada bercanda. Dia pun membalas dengan bercanda.
“Aku tak pantas buat kakak”
Aku hanya tersenyum, aku tak memaksanya. yang penting bisa dekat dengannya itu sudah membuatku bahagia. Mungkin dia belum siap atau ada alas an lain. Yang jelas, kami nyaman dengan hubungan tanpa setatus ini.
Kedekatan kami sebenarnya sudah diluar kewajaran hubungan persahabatan. Singkat cerita. Akhirnya aku mengatakan kepadanya.
“Kakak suka Ratri, tapi kakak tak memaksa. Jika Ratri tak suka, ku harap kita tetap berteman”
“Aku harus berpikir, Ratri merasa gak pantas bersanding dengan kakak”
“Berarti Ratri menolak?yah, yang penting kita bersabat”
“Tapi, siapa juga yang nolak kakak”
Mulai sore ini kita resmi menjalin hubungan. Maka istilah bulan-bintang menjadi semakin bermakna. Ratri bulan ku dan aku bintang Ratri. Dan kami pun sepakat untuk serius sampai ke pelaminan, pastinya dengan perjuangan yang tidak mudah. Karena, pertama, aku dan Ratri dibesarkan oleh adat yang berbeda. Dan itu adalah kendala.
Ratri begitu lemah, dia sering cerita, malam hari sering menagis sendiri. Khuatir hubungan kami kandas ditengah jalan. Tapi aku selalu berusaha meyakinkannya. Dan, mengajaknya berjuang bersama. Tentunya, dibarengi doa kepada Allah swt.
Entah kenapa, tiba-tiba Ratri mengira aku marah.
“Kakak marah, maaf kak. Ratri bingung, semrawut, dan meneteskan air mata”
Hatiku terenyuh dan kebingungan, aku juga mengira ratri marah kepadaku, aku telpon—dan ini pertama kali—nomernya tidak aktif, aku tak tau harus berbuat apa. Aku berpikir , mungkin sms ku tidak terkirim ke handpone nya.
“Kak, sms pean baru samapi ke Ratri. Ratri semrawut dan bingung. Sekarang Ratri di parkiran”
Seketika aku menghampirinya, tanpa suara, hanya saling pandang, tapi kecerahan mulai menghiasi wajahnya. Akhirnya, aku mencoba membuka pembicaraaan. Dia pun menjawab, pastinya dengan kebahagiaan.
“Jangan menangis lagi ya, kakak tak marah, dan kakak akan berusaha setia sama Ratri, bi izdnillah” 
Hari ini aku harus pulang, karena ada sesuatu yang harus aku kerjkan di rumah. Ratri  awlnya tak mengijini, bukan karena apa , tapi dia tak kuat di kampus tanpa senyumku. Tapi setelah ku bujuk, akhirnya dia mengijini walau terpaksa. Dan, akupun berjanji menelponnya sebagai ganti dari pertemuan.
“Kakak suka Ratri”
“Ratri juga suka kakak. Kita sama-sama berusaha ya kak”
“Iya, bi izdnillah…..semangat!!”
Hari senin. Yah, setelah tiga hari tidakbertemu. Dihari ini kami melepas rindu, walau hanya tatapan dari kejauahan dan sms. Entah mengapa dia tiba-tiba khuatir aku akan meninggalkannya.
“Kakak tak akan meninggalkan ratri kan, kita berjuang bareng ya”
“Ya, dan halangan terbesar menurut ku adalah adat kita”
“Bukan itu kak, tapi,”
“Tapi apa?ratri harus terus terang, dalam cinta harus saling terbuka”
“Ratri takut, kakak meninggalkan Ratri, Ratri sayang sama kakak”
“Iya , kakak cinta Ratri, tapi ratri harus terus terang”
“Udah ada yang melamar Ratri, sebenarnya cowok itu yang dulu dijodohkan dengan ratri, terus dia minta putus, terus nyambung lagi karena dimarahin orang tuanya. Tapi kemudian putus lagi, akhirnya dia diberi kesempatan sampai lulus, dan dia menjawab untuk meneruskan hubungan dengan ratri, tapi itu setelah kita sama-sama suka. Dan ratri sekarang hanya mencintai kakak, ratri ingin kita berjuang, tapi ratri gak memaksa”
Aku pun kaget membaca pengakuan ratri
“Ratri salah, kenapa ratri gak bilang sejak awal bahwa ratri dalam masa penantian, kakak merasa berdosa, kaka telah menjadi orang ketiga.”
“Maafkan Ratri kak, cinta ini datang alami begitu saja, kakak pasti kecewa sama Ratri. Sekarang terserah kakak, mau berjuang sama Ratri atau tidak, Ratri salah, Ratri tak memaksa”
Aku tak kunjung membalas smsnya, aku bingung, aku perlu waktu untuk berpikir. Aku mencintainya dan ingin bersamanya, tapi disis lain posisiku salah, karena sebagai orang ketiga.
“Kakak, maafkan ratri”
“Kakak jangan diam, diam mu membunuhku”
“Kakak memaafkan Ratri,,,,kita sama-sam terluka, maaf! Kakak tak bisa berjuang bareng Ratri, kakak mersa berdosa menjadi orang ketiga. Tapi ratri tetep harus semangat. Kakak bukan segala-galanya, Ratri masih punya Allah. Tuhan alam semesta.” Ini jawaban terakhirku, dan tidak ada balasan lagi darinya. Dan, sekarang aku memasrahkan total hubungan ini kepada Allah, bagaimana yang terbaik untuk kami. Jika berjodoh suatu saat cinta in akan menyatu bi izdnillah.




Blogroll