Labels

Thursday, 16 July 2015

Ketupat dan Lontong Lebaran

Oleh: Zaim Ahya'

Melakukan sesuatu yang bisa membahagiakan orang lain adalah menyenangkan. Bentuknya sangat banyak. Salah satunya memasak. Tentunya bukan untuk dimakan sendiri, tapi bersama.

Se tau ku hanya di indonesai-karena memang aku belum pernah keluar negeri-yang ada tradisi masak masak menyambut lebaran. Masakannya pun khas, ketupat ayam atau lontong opor. Dan hampir setiap umat islam di indonesia melakukan itu.

Nabi sebagai pembawa ajaran idul fitri kayaknya--karena aku tak menjumpai zaman beliau--tak pernah membuat ketupat dan lontong. Walau begitu, bagi umat islam indonesia, kayaknya idul fitri terasa tak lengkap tanpa ketupat dan lontong.

Ada juga hal lain, yang menjadi ciri khas lebaran di indonesia. Tepatnya di desa--gak tau dikota, aku bukan orang kota--ada yang namanya "ater ater". Yaitu, saling mengantar masakan ke tetangga. Tukar menukar masakan. Mungkin tujuannnya mempererat silaturahim. Dan husnudzon ku, untuk mengantisipasi tetangga yang tak punya apa apa, supaya bisa tetap makan ketupat dihari lebaran.

Membuat ketupat dan lontong bukanlah hal yang mudah--aku bisa, tapi dulu kala--perlu ketrampilan yang khusus. Jadi, tal semua orang bisa. Apalagi sekarang, paling yang bisa cuma orang orang tua. Ini berbahaya, jika para pemuda tak segera mewarisi ilmu keren itu, maka bisa jadi dua puluh tahun kedepan, tak ada lagi ketupat lebaran. Gak asik kan.

Kalau dipikir pikir, ngapain ribet ribet buat ketupat dan lontong. Kan lebih praktis beli di KFC. Toh sama sama enak, sama sama kenyang. Kata orang, sebenarnya ada sesuatu yang tersimpan dalam ketupat lebaran. Katanya, dengan adanya ketupat dan lontong itu menunjukkan bahwa kita kaya akan bermacam macam tumbuhan dan pangan. Tak mungkin membuat ketupat dan lontong kalau kita tak mempunyai banyak pohon pisang dan janur. Mungkin begitu.

Sunday, 28 June 2015

Tentang tarawih

"Taraweh ku 20 rakaat" kata ku. "Bukan, 8 rokaat" teman ku menyaut. Ya, begitulah tarawih rokaatnya beragam. Tergantung keyakinan. Atau kebutuhan. Karena ternyata bukan orang MD yang tarawih 8 rokaat. Orang NU pun, yang karena suatu alasan melakukan tarawih 8 rakaat. Dus, tak ada gunanya bertengkar tentang rokaat. Toh, sekarang, jumlah tak menandakan identitas.

Ada perbedaan lain. Ya mungkin hanya di jawa, Indonesia. Khususnya yang taraweh 20 rakaat. "Setiap 4 rokaat kami berdoa" kata seorang. Yang lain berkata "setiap 4 rakaat ada ceramah". Ya, setiap kelompok punya kreasi. Ini bukan bid'ah, tapi kreatif. Seperti menutup aurat, yang wajib hanya mulai pusar sampai lutut. Dengan kreasinya, manusia menutup yang lainnya. Bahkan sampai kepalanya.

Bukan hanya itu, Bilal taraweh juga berbeda. Ya masing masing punya cara menghitung rokaat taraweh. Walaupun mungkin awalnya sama. Tak apa, yang penting hasilnya sama. Sama 20 rakaat. Atau 8 rokaat.

Itulah beberpa perbedaan. Mungkin ada perbedaan lain. Itulah luar bisanya manusia, selalu punya cara berbeda memahami firman Tuhannya. Yang jelas mereka tetap mempunyai tujuan yang sama. Menarik bukan?

Sunday, 8 February 2015

Menjadi Seorang Lelaki

 Oleh: Zaimuddin Ahya'

--Saya suka menonton film kungfu yang menceritakan masa lalu. Misalnya film Golok Pembunuh Naga. Bagi saya film semacam ini bukan hanya sekedar pertarungan fisik tapi juga ada pertarungan ideologi dan keyakinan hidup. Ada kata-kata dari film ini yang sampai sekarang masih terngiang dalam benak, yaitu kata-kata dari Guru besar perguruan Butong kala itu. Guru itu mengatakan, "lelaki mati satu kali, tapi harus berma'na".

Kata-kata Guru Butong itu sekilas biasa saja, tapi kalau direnungkan mempunyai ma'na yang dalam. Penulis sendiri sering menggunakan kata-kata itu dalam obrolannya. Baik untuk memotivasi orang lain mauapun diri sendiri ketika dalam keadaan tak bersemangat. Bagi penulis, ma'na kata-kata itu sangat dalam, karena dengan kematian yang berma'na itu menandakan hidup kita di dunia tidak sia-sia. Dan, bisa jadi itu yang membedakan manusia dari makhluk yang lain. Kalau kematian seorang manusia tidak berma'na, lalu apa bedanya dia pernah hidup dan tidak?

Dalam hazanah islam klasik, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, manusia yang dibaratkan seperti malaikat, selalu membawa kebahagiaan bagi manusia lain. Kedua, manusia yang keberadaannya sama dengan ketiadaannya, sama-sama tidak mendatangkan kebahagiaan dan kesusahan bagi manusia lain. Sedangkan yang ketiga, manusia yang keberadaannya menyusahkan manusia yang lain (al-Ghazali).
Dari tiga golongan manusia di atas, kiranya yang searti dengan kata-kata Guru Butong tersebut adalah manusia golongan pertama. Karena manusia golongan pertama ini selalu menebarkan kebahagian, bukankah tak ada yang lebih berma'na dari selain membahagiakan manusia yang lain?    
  

Tuesday, 23 December 2014

ديارة العمل كسبيل ارتفاع الاقتصادية

                                                  "(ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بانفسهم (الرعد: 11)"
فى هذه الاية امر الله الانسان ان يغير حاله بمحاولته فى جميع اموره الى درجة العليا حتى الاقتصادية. ولا يستطيع ان يغيره بدعاء فقط, بل بالعمل ايضا. وفى ارتفاع الاقتصادية, لازم للانسان ان يختار طريقا مناسبا كي يكون نجيحا فى الدنيا ولا يخرج من قنون الدين. وقد دل رسول الله ص. م طريقه بسنته. كان با ئعا صديقا. فلخلا صة, ما فعله رسول الله من جملة انواع ديارة العمل او العمل الحر.

Friday, 21 November 2014

Tak Ada Yang Tau Hari Esok

Oleh: Zaimuddin Ahya'*
--Sering kali manusia memberikan semuanya untuk hari ini, dan sering juga mereka menyesal setelah sadar bahwa hidup tidaklah hari ini saja. Hidup ini panjang, penuh misteri dan kadang tidak terduga.
Dalam banyak hal, manusia secara tidak sadar mencurahkan segala perhatiannya pada hal yang dia sukai saat ini. Misalnya, jabatan, percintaan dan pengetahuan.

Thursday, 13 November 2014

Memilih Penderitaan Yang Membahagiakan

Oleh: Zaimuddin Ahya'
--Banyak yang mengatakan kalau ingin bahagia harus menderita terlebih dahulu. Satatemen ini juga dikuatkan dengan pribahasa yang cukup terkenal "berakit-rakit dahulu, berenang ketepian. Bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Namun kalau kita fahami betul kehidupan ini, tak selamanya menderita itu berujung kebahagiaan. Sekarang yang jadi pertanyaan, penderitaan atau sakit seperti apa yang mengantarkan kepaa kebahagiaan?

Monday, 6 October 2014

Agama Tidak Akan Mati

Judul Buku  : Agama Punya Seribu Nyawa
Penulis         : Komaruddin Hidayat
Penerbit       : Noura Books
Tebal           : XXV + 281 halaman
Peresensi     : Zaimuddin Ahya'*


Oleh: Zaimuddin Ahya'
--Akhir-akhir ini keberlangsungan agama di pertanyakan. Agama sering dianggap telah kuno dan sudah tidak relevan pada zaman modern ini. Bahkan, munculnya terorisme dan kekerasan atas nama agama  menjadikan agama menyandang asumsi negative, sumber pertikaian. Kemudian, bagaimana nasib agama dimasa depan? Mungkinkah agama akan mati?

Dibalik Pro Kontra UU PILKADA

Oleh: Zaimuddin Ahya’
--RUU PILKADA telah disahkan dengan cara voting setelah tidak ditemukannya kesepakatan. Dalam proses pengesahan RUU PILKADA para Legislator kita terbagi menjadi tiga kubu, dua diantaanya adalah kubu yang bersebrangan dalam pemilihan Presiden 9 juni 2014. Sedangkan satu kubu yang lain mengajukan opsi yang diyakini sebagai penengah, tapi akhirnya mereka memilih walk out setelah opsi mereka ditolak.

Saturday, 27 September 2014

Genjutsu Cinta

Saat aku mencium bau, aku teringat bau parfum mu
Saat aku melihat warna, aku teringat warna kesukaanmu
Saat aku melihat wanita, aku tak melihat kecuali bayangmu

Blogroll