Labels

Saturday, 28 February 2015

Aku dan Ayah

Pagi ini entah bagaimana keadaan hati ku, rasanya aku ingin meneteskan air mata. Aku teringat ayah, ternyata sudah lama sejak ayah meninggalkan dunia ini. Ya sudah 14 tahun. Aku masih ingat, jum'at terkhir, kami pulang dari masjid bersama. Entah mengapa waktu itu aku menunggunya, padahal biasanya aku pulang duluan. Aku masih ingat perjalanan terkhir ku bersama ayah, tapi aku sama sekali tak ingat pembicaraan kami, aku juga gak ingat apakah ayah pernah berpesan sesuatu kepada ku, yang masih ku ingat adalah, dia tersenyum bangga saat aku bercerita tentang kebaikanku kepada teman-teman ku.

Memang waktu trus berlalu, tapi entah mengapa semakin aku dewasa, semakin aku merindukanmu ayah, apalagi kalau akau lagi punya masalah, aku ingin sekali meminta nasehatmu. Bahkan kadang aku iri kepada mereka yang bisa bercana dengan ayah masing-masing. Keirian ku bukan berarti aku tidak menerima kehendak Tuhan, tapi ini bentuk kerinduan yang sangat.

Ketika aku mengingatmu ayah, aku menjadi sedih, tapi aku sekaligus bangga karena bukankah Nabi Muhammad juga ditinggal ayahnya, bahkan ketika masih di kandungan, bukankah Imam al-Ghazali, Imam as-Syafi'i, Imam al-Bukhori, Gus Dur semuanya juga ditinggalkan ayahnya sewaktu kecil, sampai aku juga terhibur dengan tokoh-tokoh fiktif yang aku gemari, Yoko, Wiro Sableng, Jiraya, Naruto mereka juga ditinggalkan ayah sewaktu kecil. Yah, semoga aku juga bisa menjadi seperti mereka, menjadi hebat.

Sunday, 8 February 2015

Menjadi Seorang Lelaki

 Oleh: Zaimuddin Ahya'

--Saya suka menonton film kungfu yang menceritakan masa lalu. Misalnya film Golok Pembunuh Naga. Bagi saya film semacam ini bukan hanya sekedar pertarungan fisik tapi juga ada pertarungan ideologi dan keyakinan hidup. Ada kata-kata dari film ini yang sampai sekarang masih terngiang dalam benak, yaitu kata-kata dari Guru besar perguruan Butong kala itu. Guru itu mengatakan, "lelaki mati satu kali, tapi harus berma'na".

Kata-kata Guru Butong itu sekilas biasa saja, tapi kalau direnungkan mempunyai ma'na yang dalam. Penulis sendiri sering menggunakan kata-kata itu dalam obrolannya. Baik untuk memotivasi orang lain mauapun diri sendiri ketika dalam keadaan tak bersemangat. Bagi penulis, ma'na kata-kata itu sangat dalam, karena dengan kematian yang berma'na itu menandakan hidup kita di dunia tidak sia-sia. Dan, bisa jadi itu yang membedakan manusia dari makhluk yang lain. Kalau kematian seorang manusia tidak berma'na, lalu apa bedanya dia pernah hidup dan tidak?

Dalam hazanah islam klasik, manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, manusia yang dibaratkan seperti malaikat, selalu membawa kebahagiaan bagi manusia lain. Kedua, manusia yang keberadaannya sama dengan ketiadaannya, sama-sama tidak mendatangkan kebahagiaan dan kesusahan bagi manusia lain. Sedangkan yang ketiga, manusia yang keberadaannya menyusahkan manusia yang lain (al-Ghazali).
Dari tiga golongan manusia di atas, kiranya yang searti dengan kata-kata Guru Butong tersebut adalah manusia golongan pertama. Karena manusia golongan pertama ini selalu menebarkan kebahagian, bukankah tak ada yang lebih berma'na dari selain membahagiakan manusia yang lain?    
  

Tuesday, 23 December 2014

ديارة العمل كسبيل ارتفاع الاقتصادية

                                                  "(ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغير ما بانفسهم (الرعد: 11)"
فى هذه الاية امر الله الانسان ان يغير حاله بمحاولته فى جميع اموره الى درجة العليا حتى الاقتصادية. ولا يستطيع ان يغيره بدعاء فقط, بل بالعمل ايضا. وفى ارتفاع الاقتصادية, لازم للانسان ان يختار طريقا مناسبا كي يكون نجيحا فى الدنيا ولا يخرج من قنون الدين. وقد دل رسول الله ص. م طريقه بسنته. كان با ئعا صديقا. فلخلا صة, ما فعله رسول الله من جملة انواع ديارة العمل او العمل الحر.

Friday, 21 November 2014

Tak Ada Yang Tau Hari Esok

Oleh: Zaimuddin Ahya'*
--Sering kali manusia memberikan semuanya untuk hari ini, dan sering juga mereka menyesal setelah sadar bahwa hidup tidaklah hari ini saja. Hidup ini panjang, penuh misteri dan kadang tidak terduga.
Dalam banyak hal, manusia secara tidak sadar mencurahkan segala perhatiannya pada hal yang dia sukai saat ini. Misalnya, jabatan, percintaan dan pengetahuan.

Thursday, 13 November 2014

Memilih Penderitaan Yang Membahagiakan

Oleh: Zaimuddin Ahya'
--Banyak yang mengatakan kalau ingin bahagia harus menderita terlebih dahulu. Satatemen ini juga dikuatkan dengan pribahasa yang cukup terkenal "berakit-rakit dahulu, berenang ketepian. Bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Namun kalau kita fahami betul kehidupan ini, tak selamanya menderita itu berujung kebahagiaan. Sekarang yang jadi pertanyaan, penderitaan atau sakit seperti apa yang mengantarkan kepaa kebahagiaan?

Monday, 6 October 2014

Agama Tidak Akan Mati

Judul Buku  : Agama Punya Seribu Nyawa
Penulis         : Komaruddin Hidayat
Penerbit       : Noura Books
Tebal           : XXV + 281 halaman
Peresensi     : Zaimuddin Ahya'*


Oleh: Zaimuddin Ahya'
--Akhir-akhir ini keberlangsungan agama di pertanyakan. Agama sering dianggap telah kuno dan sudah tidak relevan pada zaman modern ini. Bahkan, munculnya terorisme dan kekerasan atas nama agama  menjadikan agama menyandang asumsi negative, sumber pertikaian. Kemudian, bagaimana nasib agama dimasa depan? Mungkinkah agama akan mati?

Dibalik Pro Kontra UU PILKADA

Oleh: Zaimuddin Ahya’
--RUU PILKADA telah disahkan dengan cara voting setelah tidak ditemukannya kesepakatan. Dalam proses pengesahan RUU PILKADA para Legislator kita terbagi menjadi tiga kubu, dua diantaanya adalah kubu yang bersebrangan dalam pemilihan Presiden 9 juni 2014. Sedangkan satu kubu yang lain mengajukan opsi yang diyakini sebagai penengah, tapi akhirnya mereka memilih walk out setelah opsi mereka ditolak.

Saturday, 27 September 2014

Genjutsu Cinta

Saat aku mencium bau, aku teringat bau parfum mu
Saat aku melihat warna, aku teringat warna kesukaanmu
Saat aku melihat wanita, aku tak melihat kecuali bayangmu

Wednesday, 9 July 2014

Ilusi Tak Terbatas Pilpres 2014

Oleh: Zaimuddin Ahya'*
           Tampaknya pengaruh pilpres terhadap rakyat Indonesia begitu besar, sehingga agak pantas jika dikatakan rakyat Indonesia sedang terperangkap dalam mimpi tak terbatas. Ya, impian melihat calon yang didukungnya berhasil memperoleh suara terbanyak. Terlihat dari postingan di sosial media (facebook, twitter dan semacamnya) yang berisi pengunggulan calon yang didukung dan juga sindiran-sindiran sinis kepada calon yang lain, padahal ritual memilih presiden telah usai dan tinggal menunggu hasil.

Blogroll