Label

Senin, 06 Oktober 2014

Agama Tidak Akan Mati

Judul Buku  : Agama Punya Seribu Nyawa
Penulis         : Komaruddin Hidayat
Penerbit       : Noura Books
Tebal           : XXV + 281 halaman
Peresensi     : Zaimuddin Ahya'
Akhir-akhir ini keberlangsungan agama di pertanyakan. Agama sering dianggap telah kuno dan sudah tidak relevan pada zaman modern ini. Bahkan, munculnya terorisme dan kekerasan atas nama agama  menjadikan agama menyandang asumsi negative, sumber pertikaian. Kemudian, bagaimana nasib agama dimasa depan? Mungkinkah agama akan mati?
Dalam buku “agama punya seribu nyawa”, Komaruddin Hidayat mencoba menjawab pertanyaan di atas. Dia menerangkan hakikat agama dan kebutuhan manusia terhadapa agama. Banhkan , menyatakan bahwa agama adalah pelita kehidupan. Agama tidak bisa difahami secala lahirnya saja. Sering kali orang beragama tidak bisa mersakan esensi agama itu sendiri. Akhirnya, orang tersebut hanya menjadi makhluk material dan bukan makhluk sepiritual. Dalam bahasa lain orang tersebut menderita penyakit rohani. Sehingga tidak bisa membedakan baik dan buruk.
Tidak hanya itu, penulis juga menyatakan bahwa pluralisme agama adalah keniscayaan. “ragam agama dan mazdhab itu laksana ratusan sungai yang mengalir dari berbagai penjuru arah, melewati berbagai daratan, lembah, dan pegunungan yang berbeda-beda, namun, muaranya satu adanya, yakni samudra”. Begitulah pernyataan penulis dalam mengibaratkan perbedaan agama. Menurutnya, Tuhan bagaikan samudra kasih yang senantiasa menampung dan merindukan ruh manusia untuk kembali menyatu denaganNya. Dari manapun dan apapun yang terbawa oleh sungai, samudra tidak akan menolak. Bahkan menetralisir kotoran-kotoran yang dibawa.
Akan tetapi, sering kali terjadi kecemburuan diantara umat beragama dalam memperebutkan kasih Tuhan. Tak jarang mereka saling mengangkat senjata dan menumpahkan darah. Memang, ada kesan tidak rela jika ada orang yang bebeda agama masuk surga. Bahkan, ada doktrin agama yang menyatakan bahwa orang yang berbeda agama adalah kafir dan membunuhnya mendapat pahala. Doktrin tersebut sangat kuat, terutama dalam agama Islam dan Kristen. Maka, tak mengherankan Perang mereka pun disebut “holy war” (baca; Perang Suci).
Problem trut claim sebenarnya harus segera diakhiri. Jika tidak, maka umat manusia akan menyaksikan pertumpahan darah antar umat beragama semakin seru dan merata. Disini penulis melontarkan pertanyaan yang menggelitik para pembaca, “Mestikah beragama disertai sikap cemburu dan benci terhadap mereka yang berbeda keyakinan? Kalau seseorang telah yakin dan merasa benar serta nyaman dengan ajaran dan praktik keberagamaannya, bukankah kenyamanan itu yang mestinya disebarluaskan?”.
Kemudian, konflik agama tersebut membuat beberapa orang elergi terjadap agama. Sehingga muncul gerakan politik dan pemikir yang secara terang-terangan memusuhi agama. Bahkan kalau perlu dihapuskan saja. Misalnya Lenin, Mark, Richard Dawkins yang secara sistematis membangun argument ilmiah-rasioanal untuk meragukan agama.
Akan tetapi semua itu tidak menenggalamkan agama. Malahan kini semangat dan militansi agama semakin kuat. Bahkan ramalan para pemikir modern yang mengatakan ketika ilmu pengetahuan dan tegnologi telah maju agama akan mati tanpa di basmi dan Tuhan dianggap telah pensiun itu pun meleset. Agama masih hidup dan tetap eksis. Karena pada kenyataannya banyak persoalan kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh iptek modern. Jadi, “ sepanjang manusia masih nyambung dengan akar primodialnya Yang Sejati, nyawa-nyawa agama senantiasa subur dan abadi”. Itulah kalimat dari penulis.

Buku ini mengajarkan sikap toleransi agama sekaligus tetap menjaga identitas agama masing-masing. Maka,layak dibaca siapapun. Khususnya mereka yang mengalami kekecewaan pada agama dan yang suka menyebarkan agama dengan pedang serta mempunyai kecemburuan berlebihan dalam merebutkan kasih Tuhan. Selamat membaca!


Dibalik Pro Kontra UU PILKADA




Oleh: Zaimuddin Ahya’
RUU PILKADA telah disahkan dengan cara voting setelah tidak ditemukannya kesepakatan. Dalam proses pengesahan RUU PILKADA para Legislator kita terbagi menjadi tiga kubu, dua diantaanya adalah kubu yang bersebrangan dalam pemilihan Presiden 9 juni 2014. Sedangkan satu kubu yang lain mengajukan opsi yang diyakini sebagai penengah, tapi akhirnya mereka memilih walk out setelah opsi mereka ditolak.
Kubu yang mendukung pengesahan RUU PILKADA tersebut beralasan bahwa pilkada langsung oleh rakyat banyak mandaratnya dari pada manfaatnya, diantaranya adalah  mony politik, biayaya yang besar dan merusak moral masyarakat, sedangkan yang mendukung pilkada langsung berdalih bahwa pengembalian pilkada oleh DPR itu adalah pencabutan hak politik rakyat dan gerak mundur dari proses pendewasaan demokrasi.
            Jika kita kembali ke proses RUU PILKADA, dari mulai pengajuan sampai pengesahan menjadi UU, ternyata ada sesuatu yang menggelitik dan janggal. Pada awalnya RUU PILKADA diajukan oleh Pemerintah kepada DPR, Pemerintah mengusulkan pemilihan Gubernur oleh DPR sedangkan Bupati dan walikota oleh rakyat. Pada perkembangannya, pemerintah mengusulkan pemilihan Gubernur oleh rakyat, sedangkan Bupati dan Walikota oleh DPR.
            Usulan di atas ditolak oleh enam fraksi dari Sembilan fraksi DPR, mereka bersikukuh pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota secara langsung oleh rakyat. Akhirnya, Pemerintahpun mengeluarkan pernyataan mensetujui pemilihan Kepala Daerah oleh rakyat. Setelah hampir dua tahun RUU ini di bahas di DPR, tiba-tiba ada hal yang mengejutkan, kubu yang tadinya mendukung pilkada langsung, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan mensetujui pilkada oleh DPR, mereka adalah yang terkumpul dalam Koalisi Merah Putih (KMP) (Kompas; Ramlan Surbakti)
Terusan Pilpers 2014
            Perubahan sikap Koalisi Merah Putih mengundang su’udzon dari banyak pihak. Perubahan sikap tersebut dianggap sebagai balas dendam atas kekalahan mereka dalam pilpers kemarin. Anggapan ini juga dikuatkan dengan adanya pengesahan perubahan UU MD3 saat perhatiannya tertuju pada pilpers, yang isinya juga menguatkan pihak Koalisi Merah Putih yang menggelembung dalam parlemen.
            Kalau melihat sikap salah satu pemimpin Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto saat dinyatakan kalah oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam pilpers 2014, dia bersikukuh menggugat hasil hitungan KPU ke Mahkamah Konstitusi (MK), walaupun akhirnya gugatan tersebut kandas. Maka wajar, jika pengasahan RUU PILKADA ini dianggap sebagai perlawanan yang belum tuntas di pilpers 2014
Kamuflase Kekecewaan
            Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kekecewaanya di media sosial atas putusan DPR yang mengesahkan RUU PILKADA, dia juga mengaku akan bersama rakyat menggagalkan UU PILKADA tersebut. Dilain pihak, rakyat menanggapi kekecewaaan SBY dengan cibiran, mereka menganggap SBY hanya cari nama.
            Cibiran rakyat cukup beralasan, karena jika SBY serius ingin menggagalkan pengesahan UU PILKADA, seharusnya dia menolak secara langsung atau melewati MENDAGRI, sebagaimana tertulis dalam pasal 20 ayat 2 dan ayat 3 UUD 1945, disebutkan setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (ayat 2), jika RUU tersebut tidak mendapatkan persetujuan bersama, RUU itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu (ayat 3). Maka jika SBY baru menolak setelah RUU itu disahkan, itu sia-sia, karena RUU yang telah disahkan bersama akan menjadi UU dengan atau tanpa tanda tangan Presiden
 Perppu = Slilit Bagi DPR
            Entah karena serius ingin mengembalikan pilkada lansung oleh rakyat atau hanya ingin terlihat heroik, SBY memutuskan mengeluarkan dua Perppu sebagai langkah politik Presiden mengembalikan pilkada langsung, namun SBY sendiri menyatakan bahwa Perppu bisa menjadi UU jika disahkan oleh DPR 2014-2019.
            Melihat fakta, bahwa DPR 2014-2019 dikuasai oleh Koalisi Merah Putih yang notabennya mendukung pilkada oleh DPR, apakah mungkin hanya dengan diajukannya Perppu oleh Presiden, mereka berbalik arah dengan mensetujui PILKADA langsung? Maka, sudah sewajarnya, langkah politik SBY—walaupun  seolah mendukung pilkada langusng—dicurigai sebagai pencitraan di akhir periodenya.
            Bagi DPR, Perpuu yang dikeluarkan Presiden tidaklah menjadi persoalan yang serius, karena DPR mempunyai hak mengesahkan atau menolak. Disisi lain, sudah jama’ diketahui bahwa tidak berlaku lagi di Senayan pengambilan keputusan dengan cara musyawarah mufakat, semuanya ditentukan dengan voting sebagaimana kita ketahui dalam beberapa persidangan (UU MD3 dan UU PILKADA). Maka, jelaslah nasib Perpuu ada ditangan mayoritas, yaitu Koalisi Merah Putih
Counter Attack KMP
            Koalisi Merah Putih semakin menggila, setelah menang dalam pengesahan UU MD3 dan UU PILKADA, sekarang mereka berhasil menguasai kursi kepimimpinan di DPR, ketua dan empat wakil ketua DPR, semuanya dari partai-partai yang tergabung dalam koalisi merah putih. Bahkan, dikabarkan selanjutnya mereka mengincar kepemimpinan di MPR.
            Ternyata kekalahan koalisi merah putih dalam pilpers 2014 bukan akhir dari segalanya, mereka menggalang kekuatan dan menjelma lewat lembaga legislatif yang juga mempunyai power dalam mengatur kebijakan Negara. Jadi, sekarang Indoseia dikuasai dua kekuatan besar yang menjelma dalam dua intansi Negara tertinggi, Koalisi Indonesia Hebat menguasai Pemerintahan dan koalisi merah putih menguasai Parlemen. Dengan ini, kayaknya sudah tidak ada lagi idologi partai, semua telah merapat, yang ada hanya kontrak politik, walaupun penulis berharap dugaannya ini salah, semoga.  
 


Sabtu, 27 September 2014

Genjutsu Cinta

Saat aku mencium bau, aku teringat bau parfum mu
Saat aku melihat warna, aku teringat warna kesukaanmu
Saat aku melihat wanita, aku tak melihat kecuali bayangmu

Rabu, 09 Juli 2014

Ilusi Tak Terbatas Pilpres 2014 Oleh: Zaimuddin Ahya’



Tampaknya pengaruh pilpres terhadap rakyat Indonesia begitu besar, sehingga agak pantas jika dikatakan rakyat Indonesia sedang terperangkap dalam mimpi tak terbatas. Ya, impian melihat calon yang didukungnya berhasil memperoleh suara terbanyak. Terlihat dari postingan di sosial media (facebook, twitter dan semacamnya) yang berisi pengunggulan calon yang didukung dan juga sindiran-sindiran sinis kepada calon yang lain, padahal ritual memilih presiden telah usai dan tinggal menunggu hasil.
Sebenarnya waktu menunggu hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mungkin akan lebih afdhol jika digunakan untuk bersantai, berhenti menghujat satu sama lain, dan melupakan pertengkaran kemarin, tapi apakah mungkin, setelah saling tusuk kemudian sekejap seakan tidak terjadi apa-apa, kayaknya rakyat Indonesia tidak sebaik itu, bukankah watak bangsa ini pendendam?
Banyaknya kekhawatiran hari ini Indonesia dalam situasi rawan perang saudara itu sangat beralasan. Disamping sifat pendendam, ada juga sifat lain yang lebih berbahaya, yaitu tidak mampu menerima kekalahan. Entah, penulis tidak bisa membayangkan jika hal ini masih berlanjut sampai lima tahun mendatang, bukan tidak mungkin kita akan saling bunuh dengan saudara kita sendiri setiap hari, mengerikan bukan?
Keanehan atau Keajaiban
Dalam pemilu kali ini ada sesuatu—entah aneh atau ajaib—yang sepertinya belum pernah terjadi dipemilu-pemilu sebelumya, yaitu hasil perbedaan penghitungan cepat oleh beberapa lembaga survei yang berkerjasama dengan station televisi, lebih tidak mengherankan lagi, station televisi mengunggulkan calon masing-masing. Maka wajar jika di sosial media ada yang memposting “tokoh ini adalah presiden terpilih negara republik  station televisi ....
Dari perbedaan hasil penghitungan cepat menimbulkan banyak prasangka, diantanya ada yang beranggapan hal ini memang direkayasa oleh masing-masing pendukung, tapi ada juga yang beranggapan bahwa ada perbedaan dalam mengumpulkan data, melihat penghitungan cepat itu hanya mengambil sampel, tidak keseluruhan. Jika prasangka yang pertama itu benar, berarti kita memang benar-benar sedang terperangkap dalam ilusi pilpres yang tak terbatas, tapi jika prasangka yang kedua yang benar, maka kita benar-benar masih sadar bahwa kita semua bersaudara, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Ilusi Berbuah Konflik
            Hasil penghitungan cepat memang terjadi perbedaan, tapi tidak mungkin kedua calon akan menang semua, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Bagi yang menang akan dengan mudah bersyukur, tapi bagi yang kalah apakah bisa menerima. Kemungkinan terjadi saling tuduh merekayasa suara yang masuk itu rentan terjadi, melihat selisih perolehan suara yang sangat tipis. Jika saling tuduh benar-benar terjadi, mungkin ritual pilpres bisa saja tidak selesai sampai di sini, dan negaralah yang paling dirugikan.
            Ritual pilpres akan semakin terasa tidak maqbul’ manakala nantinya hasil hitungan akhir dari KPU tidak disikapi dengan legowo oleh calon yang kalah, karena bisa membakar kekecewaan para simpatisan. Kemungkinan terburuk kita akan perang saudara, sedangkan kemungkinan agak buruk akan terjadi pembangkangan pihak calon yang kalah selama lima tahun kedepan, tapi penulis kira dua kemungkinan tersebut tidak akan terjadi, karena tak mungkin mereka memilih  terperangkap terlalu dalam oleh ilusi tak terbatas pilpres ini, maka calon yang kalah pasti akan legowo dan tak mungkin menjadi penyulut konflik setanah air, sebagaimana sering kita dengar bahwa mereka mencalonkan diri sebagai presiden demi kesejahteraan Indonesia. Wallahu ‘alam

Kamis, 08 Agustus 2013

Entah Bagaimana Melupakanmu?




Entah bagaima aku melupakan tulisanmu. Mungkin mulai hari ini aku tak akan melihat tulisanmu memenuhi kotak masuk di handphone ku. Tepatnya, kemarin, terakhir aku membaca tulisan yang membuat mulut ini bergerak-gerak laksana paruh burung prenjak yang melihat pisang.
Hubungan kita yang begitu rahasia, mungkin alam pun tak tau. Yah, kisah kita dimulai dari sms dan berakhir dengan sms. tanpa suara. tanpa tatap muka.
Waktu itu, sebenarnya aku menaruh perhatian sejak pertama melihatmu. Tapi, hingga beberapa bulan belum ada komunikasi diantara kita, karena tak ada “kebetulan” yang terjadi dan kita punya sifat yang sama. Yaitu, pemalu. Jadi tak ada tegur sapa. walaupun kita sering berpapasan. Karena kebetulan satu kampus.
Ratri, itulah sebutanmu. Teman-temanmu akrab memanggilmu. Begitu pula aku, walaupun cuma dalam hati. sedangkan mulut ini tersipu malu tak mampu bergema sedikitpun, bahkan mungkin sampai sekarang.
Aku masih ingat sekali. Iya, sore itu, diam-diam aku mencatat nomermu yang tertulis dalam lembaran absen kegiatan yang kita ikuti. Diskusi sore yang diselenggarakan oleh salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa). Tapi, nomermu hanya menjadi hiasan mati dalam kontak handphone ku. Tak ada keberanian menghubungimu.
Hingga pada suatu malam. Malam idul fitri, malam sms bertebaran. Berisi ucapan selamat dan maaf. Tiba-tiba muncul sebuah inspirasi. Aku mengirim sms ke nomermu. Ternyata sambutan baik yang kuharap terjadi. Kamu membalasnya. Dan, malam itulah yang menjadi awal kisah kita.
Hari ini aku mencoba mengenang, setidaknya itu indah bagiku. Dari malam itu, lama-lama aku dan kamu tambah akrab. Aku senang dengan hal itu dan mungkin kau juga senang, karena seakan tulisanmu berkata seperti itu.
“Aneh tapi nyata”, itu yang ku rasakan, mungkin tak jauh beda dengan dirimu. Begitu akrabnya di sms tapi seperti tak kenal ketika bertatap mata. Malu, mungkin itu. Setiap hari tak pernah kita tak saling sapa. Sapaan itu menjadi lebih intim. Bagaimana tidak? Hanya aku dan kamu yang tau.
Akhirnya benar, kita seperti Laila-Majnun, hanya berkata lewat tulisan dan mencuri pandang dari kejauhan. Walaupun aku tak pernah mengungkapkan cinta, begitu pula dirimu. Tapi kata-kata mesra yang tertulis itu sudah lebih mewakili isi hati.
Entah, kenapa tiba-tiba kamu berubah. Tepatnya kemarin sore, aku kaget membaca sms mu
“Kak, aku tak lagi percaya kepadamu, kamu hanyalah perayu wanita yang busuk dan aku adalah korban.”
Langit seakan mendadak gelap, aku pun mencoba menjelaskan. Tapi, seakan anggapan itu telah terpatri dalam sanubarimu. Sejak saat itulah, wajah ini tak pernah senyumm-senyum sendiri layaknya orang gila.
Sebenarnya hari aku masih menunggu, tapi itu percuma. Pikiranku masih terpusat pada Ratri. Tak Teresa matahari telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Ternyata aku melamun seharian, mengenang kisah itu.
Setelah beberapa hari aku mencoba menghubunginya. Tak kusangka, ternyata dia menjawab dan seakan menunggu sms dariku. Aku pun bahagia. Kami meneruskan hubungan ini. Hubungan persahabatan yang mesra. Dari itu, semua berjalan seperti semula. Setiap hari, bahkan setiap waktu aku bersamanya.
Semakin lama kata-kata kami semakin mesra. Entah tak tau kapan awalnya, aku memanggilnya bulan. Sedang dia memanggilku bintang.
“Bulan tak lengkap tanpa bintang” itulah kata yang sering dia tuliskan.
“Bintang menemani bulan” kata inilah yang menjadi jawaban ku.
Akhirnya akupun memulai memberanikan diri, mengatakn perasaanku kepadanya, walau dengan nada bercanda. Dia pun membalas dengan bercanda.
“Aku tak pantas buat kakak”
Aku hanya tersenyum, aku tak memaksanya. yang penting bisa dekat dengannya itu sudah membuatku bahagia. Mungkin dia belum siap atau ada alas an lain. Yang jelas, kami nyaman dengan hubungan tanpa setatus ini.
Kedekatan kami sebenarnya sudah diluar kewajaran hubungan persahabatan. Singkat cerita. Akhirnya aku mengatakan kepadanya.
“Kakak suka Ratri, tapi kakak tak memaksa. Jika Ratri tak suka, ku harap kita tetap berteman”
“Aku harus berpikir, Ratri merasa gak pantas bersanding dengan kakak”
“Berarti Ratri menolak?yah, yang penting kita bersabat”
“Tapi, siapa juga yang nolak kakak”
Mulai sore ini kita resmi menjalin hubungan. Maka istilah bulan-bintang menjadi semakin bermakna. Ratri bulan ku dan aku bintang Ratri. Dan kami pun sepakat untuk serius sampai ke pelaminan, pastinya dengan perjuangan yang tidak mudah. Karena, pertama, aku dan Ratri dibesarkan oleh adat yang berbeda. Dan itu adalah kendala.
Ratri begitu lemah, dia sering cerita, malam hari sering menagis sendiri. Khuatir hubungan kami kandas ditengah jalan. Tapi aku selalu berusaha meyakinkannya. Dan, mengajaknya berjuang bersama. Tentunya, dibarengi doa kepada Allah swt.
Entah kenapa, tiba-tiba Ratri mengira aku marah.
“Kakak marah, maaf kak. Ratri bingung, semrawut, dan meneteskan air mata”
Hatiku terenyuh dan kebingungan, aku juga mengira ratri marah kepadaku, aku telpon—dan ini pertama kali—nomernya tidak aktif, aku tak tau harus berbuat apa. Aku berpikir , mungkin sms ku tidak terkirim ke handpone nya.
“Kak, sms pean baru samapi ke Ratri. Ratri semrawut dan bingung. Sekarang Ratri di parkiran”
Seketika aku menghampirinya, tanpa suara, hanya saling pandang, tapi kecerahan mulai menghiasi wajahnya. Akhirnya, aku mencoba membuka pembicaraaan. Dia pun menjawab, pastinya dengan kebahagiaan.
“Jangan menangis lagi ya, kakak tak marah, dan kakak akan berusaha setia sama Ratri, bi izdnillah” 
Hari ini aku harus pulang, karena ada sesuatu yang harus aku kerjkan di rumah. Ratri  awlnya tak mengijini, bukan karena apa , tapi dia tak kuat di kampus tanpa senyumku. Tapi setelah ku bujuk, akhirnya dia mengijini walau terpaksa. Dan, akupun berjanji menelponnya sebagai ganti dari pertemuan.
“Kakak suka Ratri”
“Ratri juga suka kakak. Kita sama-sama berusaha ya kak”
“Iya, bi izdnillah…..semangat!!”
Hari senin. Yah, setelah tiga hari tidakbertemu. Dihari ini kami melepas rindu, walau hanya tatapan dari kejauahan dan sms. Entah mengapa dia tiba-tiba khuatir aku akan meninggalkannya.
“Kakak tak akan meninggalkan ratri kan, kita berjuang bareng ya”
“Ya, dan halangan terbesar menurut ku adalah adat kita”
“Bukan itu kak, tapi,”
“Tapi apa?ratri harus terus terang, dalam cinta harus saling terbuka”
“Ratri takut, kakak meninggalkan Ratri, Ratri sayang sama kakak”
“Iya , kakak cinta Ratri, tapi ratri harus terus terang”
“Udah ada yang melamar Ratri, sebenarnya cowok itu yang dulu dijodohkan dengan ratri, terus dia minta putus, terus nyambung lagi karena dimarahin orang tuanya. Tapi kemudian putus lagi, akhirnya dia diberi kesempatan sampai lulus, dan dia menjawab untuk meneruskan hubungan dengan ratri, tapi itu setelah kita sama-sama suka. Dan ratri sekarang hanya mencintai kakak, ratri ingin kita berjuang, tapi ratri gak memaksa”
Aku pun kaget membaca pengakuan ratri
“Ratri salah, kenapa ratri gak bilang sejak awal bahwa ratri dalam masa penantian, kakak merasa berdosa, kaka telah menjadi orang ketiga.”
“Maafkan Ratri kak, cinta ini datang alami begitu saja, kakak pasti kecewa sama Ratri. Sekarang terserah kakak, mau berjuang sama Ratri atau tidak, Ratri salah, Ratri tak memaksa”
Aku tak kunjung membalas smsnya, aku bingung, aku perlu waktu untuk berpikir. Aku mencintainya dan ingin bersamanya, tapi disis lain posisiku salah, karena sebagai orang ketiga.
“Kakak, maafkan ratri”
“Kakak jangan diam, diam mu membunuhku”
“Kakak memaafkan Ratri,,,,kita sama-sam terluka, maaf! Kakak tak bisa berjuang bareng Ratri, kakak mersa berdosa menjadi orang ketiga. Tapi ratri tetep harus semangat. Kakak bukan segala-galanya, Ratri masih punya Allah. Tuhan alam semesta.” Ini jawaban terakhirku, dan tidak ada balasan lagi darinya. Dan, sekarang aku memasrahkan total hubungan ini kepada Allah, bagaimana yang terbaik untuk kami. Jika berjodoh suatu saat cinta in akan menyatu bi izdnillah.




Kamis, 28 Maret 2013

DIBALIK KISAH





Entah bagaima aku melupakan tulisanmu. Mungkin mulai hari ini aku tak akan melihat tulisanmu memenuhi kotak masuk di handphone ku. Tepatnya, kemarin, terakhir aku membaca tulisan yang membuat mulut ini bergerak-gerak laksana paruh burung prenjak yang melihat pisang.
Hubungan kita yang begitu rahasia, mungkin alam pun tak tau. Yah, kisah kita dimulai dari sms dan berakhir dengan sms. tanpa suara. tanpa tatap muka.
Waktu itu, sebenarnya aku menaruh perhatian sejak pertama melihatmu. Tapi, hingga beberapa bulan belum ada komunikasi diantara kita, karena tak ada “kebetulan” yang terjadi dan kita punya sifat yang sama. Yaitu, pemalu. Jadi tak ada tegur sapa. walaupun kita sering berpapasan. Karena kebetulan satu kampus.
Ratri, itulah sebutanmu. Teman-temanmu akrab memanggilmu. Begitu pula aku, walaupun cuma dalam hati. sedangkan mulut ini tersipu malu tak mampu bergema sedikitpun, bahkan mungkin sampai sekarang.
Aku masih ingat sekali. Iya, sore itu, diam-diam aku mencatat nomermu yang tertulis dalam lembaran absen kegiatan yang kita ikuti. Diskusi sore yang diselenggarakan oleh salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa). Tapi, nomermu hanya menjadi hiasan mati dalam kontak handphone ku. Tak ada keberanian menghubungimu.
Hingga pada suatu malam. Malam idul fitri, malam sms bertebaran. Berisi ucapan selamat dan maaf. Tiba-tiba muncul sebuah inspirasi. Aku mengirim sms ke nomermu. Ternyata sambutan baik yang kuharap terjadi. Kamu membalasnya. Dan, malam itulah yang menjadi awal kisah kita.
Hari ini aku mencoba mengenang, setidaknya itu indah bagiku. Dari malam itu, lama-lama aku dan kamu tambah akrab. Aku senang dengan hal itu dan mungkin kau juga senang, karena seakan tulisanmu berkata seperti itu.
“Aneh tapi nyata”, itu yang ku rasakan, mungkin tak jauh beda dengan dirimu. Begitu akrabnya di sms tapi seperti tak kenal ketika bertatap mata. Malu, mungkin itu. Setiap hari tak pernah kita tak saling sapa. Sapaan itu menjadi lebih intim. Bagaimana tidak? Hanya aku dan kamu yang tau.
Akhirnya benar, kita seperti Laila-Majnun, hanya berkata lewat tulisan dan mencuri pandang dari kejauhan. Walaupun aku tak pernah mengungkapkan cinta, begitu pula dirimu. Tapi kata-kata mesra yang tertulis itu sudah lebih mewakili isi hati.
Entah, kenapa tiba-tiba kamu berubah. Tepatnya kemarin sore, aku kaget membaca sms mu
“Kak, aku tak lagi percaya kepadamu, kamu hanyalah perayu wanita yang busuk dan aku adalah korban.”
Langit seakan mendadak gelap, aku pun mencoba menjelaskan. Tapi, seakan anggapan itu telah terpatri dalam sanubarimu. Sejak saat itulah, wajah ini tak pernah senyumm-senyum sendiri layaknya orang gila.
Sebenarnya hari aku masih menunggu, tapi itu percuma. Pikiranku masih terpusat pada Ratri. Tak Teresa matahari telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Ternyata aku melamun seharian, mengenang kisah itu.
“Dika, kenapa dengan dirimu, tak biasanya kamu merenung seharian, pasti tentang Ratri?”
Suara Syukur yang perlahan mendekatiku. Syukur adalah satu-satunya teman yang tau hubungan ku dengan Ratri. Selama ini aku selalu cerita kisahku kepadanya.aku tak menjawab, langsung ku kasihkan handphonep ku kepadanya.
“Sabar ya bro, mungkin dia bukan jodohmu” lanjut Syukur menasehatiku
Tak tau, tapi setelah mendengar nasehatnya rasanya aku punya semangat baru. Aku pun bertekad untuk melupakan kisah itu.

“ Kur, ayo kita besok jalan-jalan, sekedar menyegarkan otak. Pumpung besok libur kuliah”

“Siap bos” jawab Syukur semangat
Pagi ini begitu cerah, rasanya jadi tambah semangat jalan-jalan.
“Dring..dring..” 

Mataku seakan mau copot, sms dari Ratri
“Kak, kemarin bukan aku menuduh tanpa bukti. Syukur yang mengatakn itu semua padaku”
Darahku mendidih seketika, tega sekali Syukur kepadaku, kenapa?. Baergegas aku kerumah Syukur.

“Aku tak menyangka begitu tega kamu Kur, kamu ngomog apa ama Ratri”
Syukur bungkam dan menggigil
“Jawab kur!!” bentak ku keras
Bibirnya mulai bergerak, berusaha menjawab
“A..a..aku mencintaimu”
Sungguh aku tak percaya, ternyata Syukur seorang “Homo seksual”









Blogroll