Manusia dianggap berguna ketika dia
peka terhadap isu sosial, bukan hanya sekedar perbaikan diri, tapi juga
perbaikan masyarakat dan alam sekitar. Agaknya di negara kita ini sikap semacam
itu masih langka dimilki baik dari kalangan pejabat maupun rakyat. Terbukti,
masih banyak para pejabat Indonesia yang melakukan korupsi sehingga berdampak negatif
kepada rakyat kecil.
Begitupula dari sebagian kalangan
agamawan, ada yang mementingkan hubungan mereka dengan Allah tanpa peduli
terhadap hamba-hamba Allah yang membutuhkan
uluran tangan. Tanpa sadar mereka telah membatasi agama hanya dalam
masalah peribadatan saja. Dan ini bertentangan dengan ajaran agama yang
sebenarnya.
Dalam Islam sendiri terdapat konsep
“khalifatullah” yang berarti wakil Allah untuk melestarikan kehidupan dibumi
ini. Oleh karena itu, sebagai muslim sejati tidak patut hanya peduli diri
sendiri tanpa peduli yang lain, baik dalam ibadah ataupun sosial
kemasyarakatan.
Secara otomatis, ketika umat islam Indonesia
benar-benar faham dan mengaplikasikan konsep diatas niscaya angka kemiskinan di
Indonesia semakin menurun bahkan musnah. Akan tetapi kenyataannya bertolak
belakang. Tidak fahamkah umat Islam tentang konsep “khalifatullah? atau faham tapi
tidak mampu mengaplikasikan?
Komonitas masyarakat yang paling
bertanggung jawab atas kemunduran Indonesia seperti saat ini tidak lain adalah
umat islam, mengingat mereka adalah penduduk mayoritas dan yang mengisi kursi
pemerintahan didominasi oleh mereka. Islam yang salah, atau pemeluknya yang
salah dalam memeluknya?
Situasi tersebut diperburuk dengan
adanya aliran-aliran yang menggugat Pancasila sebagai asas Negara. Mereka
bertindak ekstrim, bahkan mengkaim salah kepada orang islam yang tidak sepaham.
Agaknya mereka memahami Islam hanya dari sisi normatifnya saja tanpa mau
melirik kepada sisi historis. Akhirnya terjadi ketimpangan dan tidak komprehensif
dalam memahami Islam. Sebagaimana dikemukakan oleh amin Abdullah bahwa kedua
sisi tersebut ibarat dua sisi dari satu koin, tak dapat dipisahkan dan saling membutuhkan.
“Khoirukum anfa’ukum linnas”
sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfa’at bagi maunusia. Begitulah
Rasulullah memotifasi umatnya untuk peka terhadap isu sosial. Akan tetapi pada
kenyataannya, hadits ini dan hadits yang lain hanya dibuat alat mencapai tujuan
individual. Bagaimana mau membangun Negara, sedangkankan Agama pun mereka jual?

No comments:
Post a Comment